SPIRITUAL JIWA

” Di Mana Letak Posisi Unsur Ilahiah Ruh-Nya dan Unsur Spiritual Jiwa dalam Tubuh Manusia “

P E N G E R T I A N

  • Kata spiritual berasal dari kata spirit + ual.
  • Spirit sering diartikan sebagai ruhdan jiwa,yang keduanya a d a l a h unsur non-fisiksebagai ilahiyahdan batiniyah.
  • Spirit mengandung arti semangat,kekuatan,kehidupan, pengaruh, antusiasme.
  • Spiritus(s p i r i t s : bahasa Inggris)a d a l a h bahan bakar dari alkohol,minuman anggur,dan itu disebut sebagai minuman yang memberi semangat dan kekuatan.

D E F I N I S I

Jadi dari data-data tersebut, makna yang juga kita pahami sebagai definisi s p i r i t u a l, a d a l a h sebagai aspek ilahiyahbersifat batiniyah yang berasal dari j i w a dimana bisa menjadi semangat, kekuatan berupa sikap yang mendasari tindakan manusia.

Banyak sebagian ummat muslimsendiri yang masih menyangsikan akan kekuatan batiniyah ini dan yang kemudian disebut sebagai kekuatan spiritualdi dalam berdoa, penyembuhan diri sendiri dan orang lain.

MASALAH LETAK POSISI

Sudah sejak hampir 10 tahun yang lalukita menekunidan berusaha mendapatkan informasi dimanakah sebenarnya letak posisiunsur non-fisikRuh-Nya dan Jiwadidalam tubuh kita.

Ada dikatakan, bahwa keberadaan Jiwa di o t a k, sedangkan h a t i di sebalik jantung dan sebagainya, tetapi tetap kurang meyakinkan.

Penelusuran ini tetap kita lanjutkanmelalui fungsi dan tugas-tugasnya.

TUBUH MANUSIA

Tubuh manusia, yang menurut pemahamankita mutakhir, bahwa d i r i kita ini a d a l a h terdiri dari 2unsur s e p e r t i :

  • unsur f i s i k y a i t u tubuh, raga atau badan,
  • unsurnon-f i s i k y a i t u Ruh-Nya dan jiwa,

Non-fisik disini kita dapat artikan sebagai sesuatu yang tidak kasatmata.

Selanjutnya dapat kita definisikan s e p e r t i :

T u b u hkelihatan sebagai badan berotot, berdaging, berdarah, bertulang,memilikiberbagaisistem yang lengkap dan sempurna yang s e p e r t i :sistem jaringan saraf, sistem peredaran darah, sistem pencernaan, sistem hormonal, sistem kekebalan tubuh danmasih banyak lagilainnya.

R u h-Nyaa d a l a h “sesuatu”yang ditiupkanoleh Allah SWT, pada saat awal terjadinya konsepsi pembuahansel telur oleh sperma, dan menjadi sel-tunggal yang kita sebut sel-punca, stem-cel atau sebagai sel-z y g o t e dan yang mengawali munculnyasebagai kehidupan manusia yang bersifat tetap, hingga tibanya a j a l.

J i w a “sosok” yang juga abstrak, tidak kelihatan, tidak bisa didengar, tidak bisa diraba atau dikatakan tidak bisa dijangkau dengan pancaindra kita, bahkan juga tidak bisa digambarkan, tetapi jelas adadan bisa dirasakan. Mulai “dibangkitkan” oleh Allah SWT sesudah ditiupkan Ruh-Nya,dengan kualitas yang paling rendah atausangatmendasar dan akan berkembang sesuai dengan perkembangan kedewasaan manusia.

FUNGSI DAN TUGAS-TUGASNYA

Sebelum kita menguraikan fungsi dan tugasunsur non-fisik,perlu kita sepahamilebih dahulu mengenai sifatnya yang non-fisik ini, dimana kita dapat artikan a d a l a h bukannya hanya sesuatuyang tidak kasatmata saja, tetapi juga tidak dapat diukur dengan piranti secanggih apapunbuatan manusia.

Selain dari pada itu sifat-sifatRuh-Nyadan Jiwa, memang diciptakan oleh Sang Maha Pencipta,memiliki kemampuanuntuk dapat bekerja secara terus menerus,non-stop 24 jam.

Ruh-Nya,fungsi utamanya a d a l a h memunculkan e n e r ji positif sebagai anugerahkehidupan kepada manusiadan yang bersifat tetap.

Selain itu juga bertugas menjadi penggerak dan pengendali seluruh sistem gerakanorgandan bagian lainnya dari tubuh,yang bergerak diluar wilayahkesadarannya, s e p e r t i :

Gerakan jantungdan sistem peredaran darahnya, pencernaandan sistem distribusi zat makanannya,gerakan paru-parudan sistem pernapasannya dan masih banyak lagi lainnya, seluruhnya melalui sistem saraf otonom.

J i w a memiliki tugas dan kemampuanmengendalikan seluruhorgansampai sel-sel tubuh, hingga berskala ukuranm i k r o maupun n a n omelalui sistem jaringan saraf, dan juga termasuk semua unsurnon-fisik atau non-materi yang berada dalam tubuh manusia, s e p e r t i :

Sifat-sifat organ-organ sampai sel-sel tubuh, juga seluruh sistem dan mekanisme pirantiyang ada didalam tubuh.

ARTI TUGAS PENGENDALIAN

Tugas Roh-nya dan J i w a dalam pengendalian disini kita pahami sebagai termasuk dalammenjaga kesehatandan penyembuhannya organ-organ tubuh sebagai unsur fisik dan sifat-sifatnya serta unsur non-fisik dari berbagai macam penyakit.

LETAK POSISI K E B E R A D A A N

Secara sederhanadapat dikatakan, bahwa semua unsur-unsurspiritualberada didalam tubuh,seperti dinyatakan dalam Al-Qur’an, dimana tidak ada disebutkan rinciannya secara eksplisit.

Namun, berdasarkan uraianfungsi dan tugasRuh-Nya dan Jiwa tesebut diatas, dapat kita pahamibahwa keberadaan Ruh-Nyadan Jiwa

s e b a g a i menyebar, meresap dan menyatu dengan seluruh bagian-bagiandari tubuh, sekecil apapun ukurannya.Inilah konsekuensi dari fungsi dan tugasunsur spiritual dalam “mengendalikan”unsur tubuh (fisik) dan sifat-sifat tubuh (non-fisik).

Demikian,jelaslah sudah posisi letak Ruh-Nyadan Jiwadidalam tubuh manusia.

Walahu a’lam.

Tanda Tanda Taubat

Mengingat pentingnya taubat. Maka pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan poin penting yang dapat mempengaruhi seseorang agar ia mau bertaubat.

Seseorang yang berbuat dosa bisa saja malas untuk melakukan taubat.
Apakah sebabnya dia malas untuk melakukan taubat?
Apakah karena dia sibuk tentang pekerjaannya, sekolahnya, kuliahnya? Atau ia masih sibuk karena harus mengerjakan dosa-dosa lain? Atau karena ia menganggap bahwa jumlah dosanya masih tanggung dan ingin bertaubat nanti sekalian kalau dosanya sudah sangat besar?
Atau mereka tidak ingin melakukan taubat karena belum membaca artikel ini?

Apapun alasannya coba baca artikel berikut ini.
Semoga artikel ini bisa membangkitkan keinginan seseorang dalam bertaubat. Khususnya pada diri saya sendiri, yang taubatnya masih belum tentu diterima.

Okay…,

Sebagian besar dari isi artikel ini diambil dari buku berjudul IHYA’ ULUMUDDIN IV“Mengingat Kematian” (terjemahan).
Penerbit Pustaka Amani (Jakarta)
Tanggal Penerbitan: Rembang, 1 Juni 1989
Karangan Imam Al-Ghazali

Kemalasan seseorang dalam melakukan taubat dipengaruhi oleh keadaan hatinya. Yakni hati orang yang bersangkutan tersebut berada dalam keadaan beku (keras), mati, atau buta. Hal tersebut merupakan indikator tingkat keparahan keadaan hati seseorang, karena dosanya yang banyak. Namun demikian, masih bisa diusahakan untuk perbaikan keadaan hati tersebut asalkan, ia mau memperbaikinya. Yakni, dengan cara membuang sifat “keras kepala”nya.

Bagaimana membuang sifat keras kepala (keras hati) yang dimiliki oleh seseorang?

Ada seorang wanita mengeluh kepada Aisyah tentang kesat dan kasarnya hatinya, lalu Aisyah berkata,
“Hendaklah engkau banyak mengingat mati, agar hatimu menjadi lembut.”
Nasihat tersebut dijalankan oleh si wanita tadi, lalu hatinya menjadi lembut, kemudian ia pun datang sekali lagi kepada Aisyah untuk berterima kasih.

Mengingat Kematian

Ketahuilah, bahwa orang yang tenggelam dalam menyibuki keduniaan, menelungkup bergelut dengan tipu dayanya, dan cenderung memperturutkan nafsunya, pastilah hatinya lalai dari mengingat mati. Kematian tiadalah akan teringat olehnya, dan bila diingatkan ia akan kesal dan marah-marah. Orang-orang beginilah yang dituju dalam firman Allah swt.

Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
(QS. al-Jumu’ah: 8).

Selanjutnya, manusia itu terbagi menjadi tiga golongan. Yaitu: orang yang karam menekuni keduniaan, orang yang dalam taraf permulaan bertaubat, dan ahli ilmu ma’rifat yang telah sampai di ujung.

Orang yang karam dalam keduniaan tiadalah akan mengingat mati, dan kalaupun diingatnya yang terasa hanyalah kesedihan memisahi dunia dan kesal terhadap kematian. Mengingat mati dengan cara seperti ini hanyalah akan menambah jauh dari Allah swt.

Dan orang yang –ingin– bertaubat perlu sekali banyak mengingat mati, agar bangkit di hatinya rasa gentar dan takut, sehingga ia dapat melengkapkan taubat secara sempurna. Mungkin saja ia tiada menyenangi mati lantaran takut akan disambar Almaut (kematian) sebelum taubatnya sempurna dan perbekalannya lengkap. Alasan yang seperti ini untuk tiada menyenangi mati dapatlah dimaafkan, dan orangnya tiada termasuk mereka yang dituju oleh Rasulullah saw.:

“Barangsiapa yang tiada senang menemui Allah, maka Allah pun tidak senang pula menemuinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang yang seperti ini tiadalah menyesali mati dan menemui Allah. Dia hanya takut akan terluput dan gagal dari menemui Allah lantaran kekurangan dan kelalaian dirinya sendiri. Samalah halnya dengan seseorang yang terlambat datang menemui kekasihnya, lantaran masih sibuk melengkapkan segala yang perlu agar pertemuan itu menyenangkan bagi sang kekasih. Sikap seperti ini tiadalah dianggap enggan bertemu. Tandanya ialah bahwa ia selalu dalam melengkapkan persediaan, tanpa mengarahkan kesibukan kepada hal-hal lain. Dan kalau sikapnya tidak seperti itu, maka ia akan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang karam menekuni keduniaan.

Adapun orang ahli ilmu ma’rifat, ia akan senantiasa mengingat mati, karena itu lah saat perjanjian yang telah ditentukan untuk dia bertemu dengan Kekasihnya. Orang bercinta tak akan pernah lupa saat perjanjian untuk bertemu dengan kekasihnya. Dan orang yang seperti ini biasanya menganggap lambat sekali datangnya kematian dan ingin agar kematian segera tiba, untuk membebaskan dirinya dari negeri orang-orang durhaka ini, dan ia dapat pindah tempat ke daerah disamping Rabbul ‘Alamin (Tuhan Semesta Alam).

Seperti yang diberitakan oleh Hudzaifah bahwa beliau itu dikala telah dekat ajalnya, beliau mengeluh, “Pecinta yang datang dalam suasana sangat miskin. Tiadalah beruntung orang yang menyesal kemudian. Wahai Tuhan, kiranya Engkau adalah Maha Tahu bahwa miskin lebih ku cintai daripada kaya, sakit lebih kusukai daripada sehat, dan kematian lebih kuinginkan daripada kehidupan. Mudahkanlah bagiku menghadapi kematian, sehingga daku segera dapat menemui Engkau.”

Jadi, orang bertaubat memang diterima alasannya untuk tidak menyenangi kematian, dan orang yang seperti itu juga bisa diterima alasannya untuk menyenangi kematian, dan mengharapkannya. Namun, yang lebih unggul lagi derajatnya daripada dua golongan ini, ialah orang yang menyerahkan sepenuhnya kepada Allah swt.. Ia tiada memajukan pilihan untuk dirinya, tentang mati atau hidup, tetapi yang paling disukainya ialah apa yang disukai oleh Yang Dipertuannya. Orang seperti ini telah meningkat oleh kesengatan cinta dan setia ke taraf menyerah dan ridla (rela/suka) sepenuhnya. Inilah taraf yang terakhir dan tertinggi.

Namun, bagaimanapun, mengingat mati, mengandung pahala dan kelebihan, karena bahkan orang yang karam menekuni keduniaan pun masih bisa memetik faedah dari mengingat mati, yaitu merenggangkannya dari keduniaan, karena ingat kepada mati mengganggu kenikmatan hidupnya dan mengeruhkan kesenangannya yang akhirnya akan mati juga. Dan setiap hal yang mengeruhkan (mengganggu) kesenangan nafsu keduniawian adalah termasuk pintu keselamatan.

Ada beberapa hadits yang Rasulullah saw. yang menjelaskan keutamaan mengingat-ingat prihal kematian. Diantaranya adalah:

Perbanyaklah mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan segala kenikmatan (kematian).(HR. Tirmidzi)

Maksudnya, ganggulah kesenangan-kesenanganmu dengan dengan mengingatnya, agar terhenti keasyikanmu kepada kesenangan-kesenangan itu, dan hatimu lalu berhadap kepada Allah swt.

Sebabnya semua keutamaan ini adalah karena mengingat mati membawa diri merenggang dari negeri fana (penuh tipu daya) dan menyebabkan kita menekuni persiapan untuk akhirat. Sedangkan melengahkan diri dari mengingat kematian menarik kita untuk semakin menekuni nafsu keduniawian.

Kematian sebagai penasihat pada diri sendiri. Karena Rasulullah saw. bersabda:

Cukuplah kematian itu sebagai penasihat.(HR. Thabrani dan Baihaqi)

Juga sabdanya,

Hadiah berharga untuk orang mukmin adalah kematian. (HR. Ibnu Abiddunya, Thabrani dan Hakim)

Karena memang dunia itu adalah penjara bagi orang mukmin, dimana dia senantiasa menderita dalam menghadapi diri, mengendalikan hawa nafsunya, dan menolak godaan iblis. Lalu kematian membebaskannya dari siksaan itu, dan pembebasan itu tentulah suatu hadiah berharga untuknya.

Rasulullah saw. bersabda:

Kematian itu adalah penghapus dosa untuk setiap orang muslim. (HR. Abu Na’im, Baihaqi, dan al Khathib)

Dan yang beliau maksudkan tentulah orang muslim sejati, yang beriman penuh, lagi pula kaum Muslimin selamat dari hantaman lidah dan tangannya, serta terbukti dalam dirinya akhlak orang-orang beriman, dan ia tiadalah dikotori dosa, kecuali dosa-dosa kecil yang jarang pula adanya. Maka kematian, akan mensucikannya dari semua ini, dan menghapus dosa-dosanya, setelahnya ia menghindari dosa-dosa besar, dan mendirikan segala amal yang wajib (shalat, puasa, dll)

Kemudian, tentang orang yang benar-benar cerdik, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw.

Secerdik-cerdik manusia adalah yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian itu. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar cerdik dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan dunia serta kemuliaan akhirat. (HR. Ibnu Majah dan Abiddunya)

Tentang dampak buruk karena panjang angan-angan dan mengikuti nafsu.
Rasulullah saw. bersabda:

Sesungguhnya hal-hal yang paling kutakutkan mengenai kamu semua ialah dua perkara, yakni mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Mengikuti hawa nafsu itu dapat menutup dari kebenaran dan panjang angan-angan bisa menyebabkan cinta sekali kepada keduniaan. (HR. Abiddunya)

Tepat sekali apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw. tersebut. Karena yang menyebabkan panjangnya angan-angan yakni –merasa– tetap hidup selamanya yang merupakan kecintaan kepada duniawiah yang berlebih-lebihan, sangat gemar pada kenikmatannya, juga karena kebodohan semata-mata, sehingga takut sekali kedatangan mati secara tiba-tiba. Orang seperti ini tentunya tidak mengetahui bahwa kematian itu tidak pandang waktu, apakah datangnya itu disaat muda, tua ataupun tua bangka, apakah nanti musim kemarau, penghujan, musim bunga, semi dan lain sebagainya. Tidak peduli apakah malam ataukah siang. Seseorang tidak kuasa menolak kedatangannya, padahal ia juga melihat berkali-kali orang-orang yang mati di sisinya. Seseorang juga tidak tentu kapan akan dihantarkan Jenazahnya, padahal di saat itu ia masih seringkali menghantarkan jenazah.

Ada seorang ahli syair berkata:

Pernahkah?
Pernahkah orang itu selesai dari keinginannya?
Tak satupun keinginan yang terpenuhi,
Melainkan pasti akan pindah pada keinginan yang lain.

Cinta itu selalu perlu bukti.
Apakah Anda punya bukti bahwa Anda mencintai diri Anda?
Bertaubatlah dari segala dosa dan kesalahan, secepat mungkin, selama waktu masih ada. Karena itu adalah salah satu bukti bahwa Anda memang benar-benar mencintai diri Anda.

Mengapa?
Karena Rasulullah saw. bersabda:

Setelah kematian tidak ada permintaan maaf. Dan setelah kematian tidak ada tempat selain surga dan neraka. (al-hadits)

Sang Pelopor NBRI dalam Kesatuan Kekuatan NKRI bersama Dewan Pembina 71 Yes On Energi.

HATI Dikehidupan Manusia

Hati adalah organ paling inti bagi kehidupan manusia. Secara fisiologis, hati memiliki fungsi menyalurkan oksigen ke seluruh bagian tubuh melalui darah. Tetapi ia juga tempat menyimpan segala bentuk perasaan manusia yang pernah dialaminya. Hati akan berdegup kencang ketika kita bertemu dengan orang yang telah lama kita rindukan, ia juga akan merasakan kesedihan yang mendalam ketika kita mendengar atau melihat berita buruk.

Hati pada kenyataannya merespons rangsangan fisik yang diterima oleh manusia dalam bentuk emosi. Situs Scienceandnonduality merilis hasil riset berkaitan dengan hubungan antara rangsangan fisik dan hati manusia yang menimbulkan emosi sebagai bentuk respons. Banyak peneliti beranggapan bahwa suatu saat seseorang akan mampu mengendalikan emosi mereka dengan mengatur ritme detak jantung atau hati mereka.

Hati dalam Islam tidak hanya dinalar sebagai organ fisik namun juga non-fisik. Terdapat ilustrasi menarik yang dipaparkan oleh al-Hakim al-Tirmidzi (320 H) dalam karyanya Bayan al-Farq Baina al-Shadr wa al-Qalb wa al-Fuad wa al-Lubb berkaitan dengan hati manusia. Diskursus yang dibangun oleh al-Tirmidzi sendiri didasarkan kepada Alquran dan Hadis.

Menurutnya, hati manusia ibarat pelita, ia memiliki lapisan yang setiap bagiannya memiliki perannya tersendiri. Pelita memiliki lapisan kaca di bagian terluarnya, di dalamnya terdapat nyala api, tempat sumbu dan sumbu. Cahaya dipancarkan oleh sumbu yang muncul dari dalam dan sumbu tersebut tidak akan bersinar tanpa adanya minyak. Jika salah satu saja dari beberapa komponen tersebut tidak bekerja dengan baik, maka sinar tersebut akan redup.

Bagian terluar dari hati manusia adalah shadr, lapisan kedua adalah qalb, ketiga adalah fuaddan lapisan terdalam adalah lubb. Shadr adalah bagian di mana rasa dengki, hasud, syahwat, angan-angan, dan keinginan-keinginan dan rasa was-was manusia bersemayam. Ini sebagaimana dalam beberapa firman Allah Swt. yang menyebut bahwa setiap rasa was-was dan rasa sempit bersemayam di dalam shadr bukan qalb, sebagaimana berikut.

ٱلَّذِي يُوَسۡوِسُ فِي صُدُورِ ٱلنَّاسِ

Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam shadr manusia.” (QS. Annas: 5)

كِتَٰبٌ أُنزِلَ إِلَيۡكَ فَلَا يَكُن فِي صَدۡرِكَ حَرَجٞ مِّنۡهُ لِتُنذِرَ بِهِۦ وَذِكۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِينَ

Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu (shadr) karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Ala’raf: 2)

Qalb yang berada di lapisan kedua memiliki peran sama seperti sumbu, dari sanalah muncul nyala api. Di tempat ini bersemayam cahaya keimanan, kekhusyukan, kecintaan, keridaan, keyakinan, rasa takut kepada Allah, rasa berharap kepada Allah, sabar, dan rasa menerima dengan lapang dada.

Qalb juga tempat bersemayamnya pengetahuan, ia ibarat mata air dan shadr sebagai kolam yang menghimpun air tersebut. Qalb mengeluarkan pengetahuan dan shadr yang menghimpun dan menyalurkannya. Qalb-lah yang menimbulkan keyakinan kepada sesuatu, sumber pengetahuan dan keimanan. Salah satu ayat Alquran terang sekali memunculkan kata qalb untuk menyebut keimanan, sebagaimana berikut.

وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ حَبَّبَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡإِيمَٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِي قُلُوبِكُمۡ وَكَرَّهَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡكُفۡرَ وَٱلۡفُسُوقَ وَٱلۡعِصۡيَانَۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلرَّٰشِدُونَ

..tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu (qalb) serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Ahujurat: 7)

Lapisan selanjutnya menurut al-Hakim al-Tirmidzi adalah fuad, ia ibarat sumbu yang ada di dalam pelita. Berbeda dengan qalb yang merupakan tempat sumbu diletakkan. Ini adalah tempat dimana ma’rifat bersemayam, atau pengetahuan tentang Allah berada.

Lapisan yang terakhir adalah adalah lubb. Bagian ini dalam struktur pelita adalah nyala api itu sendiri. Lubb mengandung cahaya tauhid atau mengesakan Allah. Hal ini tidak akan bercokol dalam lubb manusia tanpa adanya hidayah Allah. Sekeras apapun seseorang manusia menggunakan akalnya, mereka tidak akan mampu menerima tauhid tanpa adanya hidayah Allah. Berbeda dengan fuad, lubb adalah tempat ma’rifat, di mana seseorang mengenal Tuhannya. Mula-mula Allah menganugerahkan kepada hamba-Nya banyak sekali kenikmatan. Nah, dengan lubb mereka manusia akhirnya mengenali Tuhannya, mengenal kebaikan Tuhannya.

Di dalam Alquran, Allah menyebut-nyebut Ulil Albab (orang yang memiliki lubb) sebagai simbol orang yang menerima keimanan, orang yang memalingkan diri dari hawa nafsu dan dunia. Ia juga merupakan simbol kehormatan tertinggi seorang hamba. Di dalam Alquran Allah Swt berfirman.

يُؤۡتِي ٱلۡحِكۡمَةَ مَن يَشَآءُۚ وَمَن يُؤۡتَ ٱلۡحِكۡمَةَ فَقَدۡ أُوتِيَ خَيۡرٗا كَثِيرٗاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٢٦٩

Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah (Ulul Albab) yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. Albaqarah: 269)

Perlu digarisbawahi di sini bahwa setiap komponen di dalam hati akan bekerja dengan baik jika seluruh bagiannya berfungsi dengan baik juga, maka lubb seseorang tidak bekerja dengan baik jika shadr manusia masih banyak menghimpun was-was dan kegundahan duniawi lainnya karena hal itu akan menutupi segala kebenaran di dalam lubb.

Wallahu a’lam.


Endi Hendani

Energi Syukur

Rasa syukur adalah Energi yang dahsyat

Salah satu energi terdahsyat yang dapat anda rasakan adalah rasa syukur. Bersyukurlah atas segala sesuatu, dan anda akan mengubah perasaan anda. Bersyukurlah atas kehidupan, napas, rumah anda, artikel ini, atau apapun.Begitu merasa bersyukur, anda berada di dalam energi yang dapat menciptakan mukjizat.
Anda harus menyadari bahwa anda memiliki banyak hal dalam kehidupan ini. Ketika anda membandingkan kehidupan anda dengan kehidupan pendududk dunia ketiga, anda dengan cepat akan melihat bahwa anda hidup bagaikan seorang raja atau ratu. Anda pasti memiliki makanan, air dan tempat tinggal dan mungkin juga kulkas, televisi, radio dan computer. Berjuta-juta orang tidak memilikinya. Sadarilah bahwa anda diberkati dengan kelimpahan yg sangat besar saat ini, bersyukurlah untuk hal itu, dan anda akan menarik lebih banyak kelimpahan.

Menyembuhkan penyakit

Seorang teman saya, pernah menyembuhkan dirinya sendiri dari penyakit parahnya dengan sebuah pernyataan syukur. Waktu itu tampaknya tak ada yang dapat menolongnya. Lalu ia terinspirasi untu menulis sebuah pernyataan sederhana namun meyakinkan yang ia ucapkan setiap jam, ia rekam pada sebuah kaset dan mainkan kembali bagi dirinya sendiri, dan ia tulis serta disebarkan di berbagai penjuru rumahnya. Ia membuat sebaris kalimat itu menjadi bagian hidupnya.
Dan dalam 24 jam, Ia sembuh. Apa sebenarnya bunyi sebaris pernyataan yang ia gunakan ?
“ Terima kasih, Tuhan, atas semua berkat yang telah saya terima dan untuk semua berkat yang sedang saya terima saat ini.”
Saya bukan ilmuwan, jadi saya tidak akan berusaha menjelaskan cara hal itu bekerja. Bagaimanapun energi anda mengirimkan sinyal yang menarik lebih banyak sinyal daripada yang anda kirimkan.
Ubahlah sinyal anda, dan hasil yang akan anda dapatkan akan berubah.
Ubahhlah energi anda, dan anda akan mengubah apa yang anda alami.
” Energi yang anda pancarkan adalah hasil yang anda dapatkan ‘ Itulah Faktor Penarik
Sekali lagi, rasa syukur dapat mengubah segalanya. Mulailah bersyukur dengan tulus atas apa yang anda miliki. Lihatlah tangan anda,, atau artikel ini, atau suami/istri/anak/sahabat/teman anda, apapun yang anda cintai dan syukuri. Resapilah perasaan itu

Itulah energi yang dapat membantu anda mewujudkan apapun yang anda inginkan.

Endi Hendani

JATI DIRI

hakikat-diri-manusia-menelusuri-proses-pencarian-perspektif-9-638

“Semua orang akan rusak kecuali orang-orang yang berilmu, semua orang yang berilmu akan rusak kecuali orang yang beramal, semua orang yang beramal akan rusak kecuali orang yang Ikhlas” – Imam Al Ghazali

A. Dzat – Sifat – Asma – Af’al 
“ Kuntu kanzan makhfiyyan, fa ahbabtu ’an uraf fa khalaqtu al-khalqa li-kay u’raf “

 “Aku pada mulanya adalah khazanah/rahasia yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan makhluk, agar mereka mengenali-Ku”

Dari Abu Abdirrahman, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepada kami : “Sesungguhnya setiap orang diantara kamu dikumpulkan kejadiannya di dalam rahim ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah [air mani], kemudian menjadi ‘alaqoh [segumpal darah] selama waktu itu juga [40 hari], kemudian menjadi mudhghoh [segumpal daging] selama waktu itu juga, lalu diutuslah seorang Malaikat kepadanya, lalu Malaikat itu meniupkan RUH padanya dan ia diperintahkan menulis empat kalimat: Menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan nasib celakanya atau keberuntungannya.

RODHITU BILLAHI ROBBA…
WA BIL ISLAMA DIINA…WA BIL MUHAMMADIN NABIYA WA RASULA…
WA BIL QURANI IMAMA…WA BIL KAABATI QIBLATA…

Maka demi Allah yang tiada tuhan selain-Nya, sesungguhnya ada diantara kamu,ada yang melakukan amalan penduduk Surga dan amalan itu mendekatkannya ke Surga sehingga jarak antara dia dan Surga kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk Neraka sehingga dia masuk ke dalamnya.

Dan sesungguhnya ada seseorang diantara kamu yang melakukan amalan penduduk Neraka dan amal itu mendekatkannya ke Neraka, sehingga jarak antara dia dan Neraka hanya kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk Surga sehingga dia masuk ke dalamnya.”  [HR. Bukhori dan Muslim]

B. Manusia (sebagai Diri Pribadi) adalah “Raja di Bumi”

IMG_20160929_082316

Rata-rata pria memproduksi 70 juta sperma per mililiter semen. Dari 70 juta hanya 1 sel sperma saja yang membuahi sel telur. Sehingga diri pribadi dari setiap manusia adalah “Raja”, yaitu Raja di bumi. Penegasan tentang hal tersebut dapat di lihat pada hadist berikut ini;

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : Allah menggenggam bumi dan rnelipat langit dengan tangan kanan-Nya, kemudian bertirman : “Akulah Raja, dimanakah raja-raja bumi ?” (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

SPERMA terdiri dari :
WADI asalnya dari API menjadi DAGING
MADI  asalnya dari ANGIN menjadi SUMSUM
MANI  asalnya dari AIR menjadi TULANG
MANIKEM asalnya dari BUMI  menjadi KULIT
KUN DZAT      = HIDUP
KUN SIFAT     = HATI
KUN MUTLAK = KEHIDUPAN [Alam Rahim]

KUN FAYAKUN
Salah jadi Shaleh
Hadas jadi Hadist
Kotor jadi Bersih
Najis jadi Suci [Alam Dunia]

Rupa tidak bisa diganti, itu tandanya Kun Mutlak DZAT YANG MAHA AGUNG

 C. Akil Baligh – Berakal – Merdeka 
Ketika bayi di Alam Rahim [di dalam air ketuban] belum ada nyawa, baru ada hidup yaitu adanya RUH, RASA pendengaran dan Nafsu Muthmainah, dari Alam Rahim bayi pindah ke Alam Dunia, dan SIFAT FITRAH RUH berubah sifat menjadi ROH, ketika kontak dengan Alam Dunia itulah adanya NYAWA, nyawa adalah DARAH ada di bawah kulit di atas permukaan daging, adanya NAFAS adalah adanya HIDUP, adanya HIDUP adalah karena adanya DZAT dan SIFAT.

1. RUH SULTHONIYAH 
Tempatnya di hati, jika Ruh ini keluar dari jasad, manusia akan mengalami kematian [Nafas]

2. RUH RUHANIYAH 
Tempatnya di dada [Jantung] dan pada 360 sendi = 360 hari, badaniyah bukan raga, Satu badan satu atap [Menyeluruh]

3. RUH MAKODIYAH 
Ruh ini yang suka meninggalkan jasad, termasuk mimpi, mimpi yang benar adalah kita bisa mengingatnya dan menceritakannya dengan jelas, walaupun kejadian mimpinya sudah lama.

4. RUH DINNIYAH / JASADIYAH
Berdirinya Islam, Fitrah diri/Fitrah Agama, Ruh Samawi

Ke empat Ruh inilah yang harus pulang kembali “di bawa” oleh RUHUL QUDUS. Tugas Malaikat Maut hanya mengambil nyawa saja. [Kematian yang sempurna, tidak meninggalkan ampas]

a. RUH SULTHONIYAH > INJIL > PENCIUMAN
b. RUH MAKODIYAH > TAURAT > PENDENGARAN
c. RUH DINNIYAH > AL – QUR’AN > PENGLIHATAN
d. RUH RUHANIYAH > ZABUR > PERKATAAN

Hakikat NYAWA adalah RASA JASMANI, olahan dari
API – ANGIN – AIR – BUMI pada waktu itu mata terbuka belum bisa melihat, telinga belum bisa mendengar, hidung belum bisa mencium, mulut belum bisa berkata, hanya ada suaranya saja, setelah diberi asi atau makanan apa saja yang berasal dari saripati Api, Angin, Air dan Bumi, maka dari saripati yang empat (SAEPI 4) ini, menjadi NUR DARAH yang empat macam :

1. NUR DARAH MERAH dari Saripati API, adanya pada DAGING, membesarkan dagingnya bayi, hawanya keluar melalui TELINGA hingga bisa mendengar. [RUHUS SAMMA’ = RASA PENDENGARAN]

2. NUR DARAH KUNING dari Saripati ANGIN, adanya pada SUMSUM, membesarkan sumsum bayi, hawanya keluar melalui HIDUNG hingga bisa mencium dan merasa. [RUHUN NAFASI = RASA PENCIUMAN]

3. NUR DARAH PUTIH dari Saripati AIR, adanya pada TULANG, membesarkan tulang bayi, hawanya keluar melalui MATA hingga bisa melihat. [RUHUL BASHAR = RASA PENGLIHATAN]

4. NUR DARAH HITAM dari Saripati BUMI, adanya pada KULIT, membesarkan kulitnya bayi, hawanya keluar melalui LIDAH [Mulut] hingga bisa berbicara. [RUHUL KALAMI = RASA PERKATAAN]

5. NUR DARAH BENING 
Setelah bayi membesar kulitnya, membesar dagingnya, membesar tulangnya, membesar [banyak] sumsumnya, maka keluarlah hawanya, yaitu nafsu yang empat yaitu: 
1.      NAFSU AMARAH berdomisili pada TELINGA
2.      NAFSU SUFIAH berdomisili pada MATA
3.      NAFSU LAWAMMAH berdomisili pada LIDAH
4.      NAFSU MUTHMAINAH berdomisili pada HATI

Datangnya nafsu yaitu keinginan pada waktu di beri ASI, rasa menjadi kontak dengan gulungan Api – Angin – Bumi – Air, sebab itulah adanya air susu asal dari yang empat, buktinya adalah makanan yang di makan oleh Ibu, sebab jika Ibunya tidak makan apa-apa, tidak akan ada air susu, ketika mulut bertemu dengan air susu, tentu ada rasa, rasa enak dan manis, terasa yang enak, sampai ingin lagi tidak mau telat, kalau telat suka ngambek dan menjerit, semua terjadi karena adanya pertemuan / kontak, bukti kontaknya Ibu dan Bapak keluarlah seorang bayi dari Alam Rahim dengan hidupnya, bertemulah hawa Baathin dan Dhohir, ketika kontak dengan Alam Dunia adanya nyawa.

Sifat nyawa yaitu nafas, hakikatnya nyawa, rasa adalah buktinya, ketika rasa kontak dengan makanan maka akan menjadi nafsu dan banyak kemauan sudah pasti, dan bibit dari pada kemauan adalah karena tadi sudah merasakan air susu itu enak di rasakannya.IMG_20160929_074227

Ada enak sudah pasti ada tidak enak. Murakabah enak dan tidak enak sudah tentu, kepada telinga, mata, kepada penciuman begitu juga, sudah pasti ada enak dan tidak enak, bukti di pendengaran juga begitu, ada yang enak di dengar, ada yang tidak enak di dengar sehingga menimbulkan amarah.

Jika pendengaran kontak dengan suara yang jelek, kejadiannya menjadi rasa tidak enak, begitu juga jika kontak dengan suara yang baik akan menimbulkan enak, seterusnya begitu. Di mata pun bukti, ada enak di lihat dan tidak enak di lihat, malah ada penglihatan yang suka menimbulkan amarah. Matapun tergantung kontaknya dengan sifat, sifat yang baik dan yang buruk, jika baik maka akan menjadi enak, di penciuman pun begitu ada enak dan tidak enak, sama dengan pendengaran. Semuanya itu adalah bukti dari adanya segala KEINGINAN. SIFAT RASA BAIK dan SIFAT RASA BURUK.

“Tidak ada Tuhan selain Aku. Akulah hakikat DZAT yang Maha Suci, yang meliputi SIFAT-Ku, yang menyertai [ASMA] Nama-Ku, dan yang menandai [AF’AL] perbuatan-perbuatan-Ku.

[DZAT ; dibaca DAT bukan Zat dan bukan Zat ciptaan-Nya]

“Sesungguhnya AKU ini adalah ALLAH, TIDAK ADA TUHAN (yang hak) selain AKU, maka SEMBAHLAH AKU dan DIRIKANLAH SHALAT UNTUK MENGINGAT AKU”  [At -Thaahaa : 14]

AKU = DZAT/Nurullah, SIFAT Laisa kamishlihi syaiun, Dzat yang tidak dapat diserupai oleh sesuatu apapun, tidak ada umpamanya.

BILLA HAEFFIN, artinya tak berwarna dan tak berupa, tidak merah tidak hitam, tidak gelap tidak pula terang.

BILLA MAKANIN, artinya tidak berarah tidak bertempat, tidak di barat tidak di timur, tidak di utara maupun di selatan, tidak di atas maupun di bawah.

DZAT yang berdiri sendiri tanpa adanya ketergantungan kepada mahluk lain ciptaan-Nya, berbeda dengan manusia yang membutuhkan Allah, untuk bisa selamat di kehidupan Dunia dan Akhirat, adanya Alam semesta, Dunia, Arasy, Malaikat, Idajil/Azazil, Iblis, Setan, Jinn dan Manusia, dan semua ciptaan-Nya yang ada, adalah karena akibat dari adanya Dzat Yang Maha Suci.

1. ALAM AHADIYAT. Sebelum Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan Alam-alam, termasuk Alam Semesta, Arasy, Bumi dan Langit beserta isinya, yang ada hanyalah Dzat di Kesunyian Sejati Martabat Yang Maha Suci, Alam Tunggal Sejati, Ghaibul Ghaib.

2. ALAM WAHDAT/Alam DZAT.        SIFAT adalah Laisa kamishlihi syaiun, bukti adanya JAUHAR AWWAL RASULULLAH atau samudra hidup, pohon nyawa, wadah amal, kubur sejati, hidupnya segala rupa, seluruh isi tujuh lapis bumi dan tujuh lapis langit, asalnya yaitu dari cahaya yang satu, yaitu JAUHAR AWWAL RASULULLAH atau RUH ILMU RASULULLAH utusan Maha Agung.

DZAT/NURULLAH yang menjadikan Alam Dunia dan isinya, TIDAK PISAH dan TIDAK JAUH, DZAT dan SIFAT.
Sifat = Jauhar Awwal Rasulullah = Hakikat Muhammad [Ruh Ilmu Rasulullah] atau disebut SEJATINYA SYAHADAT, yaitu syahadatnya DZAT dan SIFAT, Ahadiat dan Wahdat, sudah tidak pisah, seperti gula dan manisnya.
Ibarat ;

DZAT adalah MANIS, SIFAT adalah GULA
DZAT adalah WANGI, SIFAT adalah BUNGA
DZAT dan SIFAT adalah PASTI.
TIDAK AKAN ADA SIFAT, JIKA TIDAK ADA DZAT,
begitupun sebaliknya.
JAUHAR AWWAL RASULULLAH yaitu cahayanya Allah.IMG_20160929_074237

3. ALAM WAHIDIYAT, yaitu Nur Ilmu Rasulullah sinarnya yang empat rupa dari Jauhar Awwal Rasulullah. Dzat Sifat-Nya Allah sifatnya sangat halus, mengeluarkan cahaya empat rupa ;
MERAH, KUNING, PUTIH, HITAM disebut NUR ILMU RASULULLAH [Nur Muhammad] yaitu Hakikat Adam bibit untuk Alam Dhohir atau Asmanya Allah,
yang empat menjadi lafadz ;
ALIF – LAM – LAM – HA, tadinya adalah Asma Allah.

Di alam ketiga yaitu Alam Wahidiyat, DZAT yang pertama disebut, dua SIFAT, barulah ASMA nomer tiga, kenyataannya sesudah adanya NUR ILMU RASULULLAH atau Hakikat Adam, yang tiga bergulung jadi satu ; Allah – Muhammad – Adam =  “ Wa nahnu aqrobbu ilaihi min hablil wariid “ = Sifat -sifat diri

4. ALAM ILMU di telusuri dari kenyataan DZAT, SIFAT, dan ASMA Allah, yang keempatnya AF’AL Maha Suci, yaitu Alam Ilmu, API – ANGIN – AIR – BUMI disebut ARWAH yang menjadikan RUH dan DARAH, bibit Adam Manusia, jadi, Api, Angin, Air, Bumi adalah dari sinarnya Nur Ilmu Rasulullah, Af’alnya Allah Yang Maha Agung, buktinya kekuasaan Allah adalah adanya Alam Dunia dari Nur Ilmu Rasulullah cahaya yang empat.

Cahaya MERAH sinarnya menjadi API
Cahaya KUNING sinarnya menjadi ANGIN
Cahaya PUTIH sinarnya menjadi AIR
Cahaya HITAM sinarnya menjadi BUMI

Dari cahaya empat rupa itu, dihidupkan oleh sinarnya Matahari, sifatnya yaitu terang, jika di dunia tidak ada terang, manusia dan tumbuhan akan mati, akan tetapi Matahari tadi tidak akan terang, jika tidak terkena sinar Dzat Sifat-Nya, tidak ada bedanya lahir dan baathin, di dhohirnya menjadi nyata, API, ANGIN, AIR, BUMI menjadi Asma Allah yaitu ALIF – LAM – LAM – HA. Matahari bisa terang, yaitu yang menjadi Tasjidnya, yang menghidupkan semua, di dunia juga pasti ada Asmanya Yang Maha Agung, satu cukup untuk semua, sifatnya meliputi.IMG_20160929_084640

5. ALAM AJSAM, adalah nyatanya jasad manusia berasal dari bumi, air, api, angin, syariatnya terasa, semuanya dari proses nabati dan hewani, tanaman yang ditanam menjadi besar karena adanya unsur bumi, api, air, angin, tidak ada unsur yang kurang satupun. Kejadian di diri manusia, yaitu kulit, daging, tulang, sumsum menjadi nafsu empat rupa :
a.       Nafsu Amarah dari DAGING hawanya keluar melalui TELINGA
b.      Nafsu Lawammah dari SUMSUM hawanya keluar menuju MATA
c.       Nafsu Sufiah dari KULIT hawanya keluar menuju MULUT
e.       Nafsu Muthmainah dari TULANG hawanya keluar menuju HIDUNG.

6. ALAM MITSAL diwajibkan oleh Maha Suci, manusia harus ikhtiar, harus mencari ilmu, untuk mengetahui asal, asal jasad waktu di Qadim, yaitu yang empat tadi. Nur ilmu Rasulullah, MERAH, KUNING, PUTIH, HITAM, asalnya jasad manusia, jika manusia sudah kenal kepada empat perkara, dengan yakin dan di dasari ilmu yang haq, itulah alam Mitsal, yaitu ma’rifat kepada alam tadi.

7. INSAN KAMIL adalah sudah ma’rifat kepada Dzat Sifat Yang Agung, yaitu Jauhar Awwal Rasulullah, sejatinya syahadat, sejatinya Iman, bibit nyawa semuanya. Insan Kamil artinya manusia sempurna [mukmin sejati] sudah sampai kepada asal, yaitu samudra hidup, kesempurnaan nyawa, pasti bisa pulang kepada asalnya yang dahulu, asal dari Allah kembali kepada Allah, Allah sudah janji, kepada siapapun manusia yang tahu, yang ma’rifat kepada Dzat Maha Suci, sewaktu di dunia, terus sampai ke Akhirat, tidak akan pisah dengan Dzat Yang Maha Agung, jika buta waktu di dunia, maka di Akhirat akan lebih buta lagi, tidak akan bertemu dengan terang, gelap sudah pasti karena tidak bisa melihat Dzat Yang Maha Agung, sewaktu gelap sudah pasti Neraka, karena di dunia tidak mencari ilmu dan ibadah, sibuk mengantar NAFSU DHOHIR.

Ibarat ;
DZAT adalah WANGI, SIFAT adalah BUNGA
DZAT adalah MANIS, SIFAT adalah GULA
TIDAK PISAH dan TIDAK JAUH
Syahadatnya Dzat dan Sifat, Ahadiyat dan Wahdat.

Ilustrasi :

DI LUAR NAMA :
DZATTULLAH yaitu disebut Alam, inilah yang memangku/menopang Alam Dunia

SIFATULLAH adalah Nur Ruh Ilmu Rasulullah seluas langit, tidak ada yang keluar dari DZAT SUCI, semuanya terliputi oleh satu cahaya.

ASMATULLAH adalah Api, Air, Angin, Bumi, Asma yang Agung. Satu, cukup untuk semua, Api, Air, Angin, Bumi menjadi huruf  ALIF – LAM – LAM – HA.

AF’ALULLAH yaitu hawa yang menghidupkan bumi dan isinya DI DIRI MANUSIA :
DZATULLAH nyatanya di diri, buktinya adalah sekujur badan, yang memangku keadaan, segala hal yang menyangkut keadaan pada wujud

SIFATULLAH nyatanya adalah rupa, rupa manusia tidak ada yang sama dengan manusia lainnya, hanya satu di alam dunia, tawilnya adalah ALLAH HANYA SATU.

ASMATULLAH yang bukti di badan adalah ;
KULIT, DAGING, TULANG, SUMSUM,
menjadi lafadz Asma Allah yaitu ;
ALIF – LAM – LAM – HA.
AF’ALULLAH yaitu geraknya wujud, semuanya diringkas kepada yang empat rupa, nyatanya Dzatullahi, yaitu perkataan, sebab perkataanlah yang menjadikan semuanya, yaitu keramaian Alam dhohir, adanya kemauan manusia, sehingga menjadi bukti dengan adanya gedung, rumah, mobil dll karena adanya bibit dari Dzat.

Dari Ibn Abbas r.a., dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam. sabdanya :“FIKIRKANLAH MENGENAI SEGALA APA YANG DI CIPTAKAN ALLAH, TETAPI JANGANLAH KAMU MEMIKIRKAN TENTANG DZAT ALLAH..” 
[HR Abu Syeikh] 
hakikat-manusia-menurut-islam-5-638
Abu Dzar r.a., dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam. sabdanya :
“FIKIRKANLAH MENGENAI SEGALA MAKHLUK ALLAH, DAN JANGANLAH KAMU MEMIKIRKAN TENTANG DZAT ALLAH, KARENA YANG DEMIKIAN MENYEBABKAN KAMU BINASA [DALAM KESESATAN]” [HR Abu Syeikh]

“FIKIRKANLAH OLEHMU SIFAT ALLAH DAN JANGAN KAMU MEMIKIRKAN AKAN DZAT-NYA. ALLAH MELIPUTI SEGALA SESUATU ”  [Al-Fushilat : 54]

”Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia [yang berhak disembah], yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu juga menyatakan yang demikian. Tak ada Tuhan melainkan Dia [yang berhak disembah] Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Ali-Imran:18]

“Wa kawa ‘Idul Imani, wajibul wajib”

Semua umat Allah wajib marifat, harus tahu kepada iman sejati, iman yang satu yaitu kepada DZAT MAHA SUCI.

SIFAT Laisa kamishlihi syaiun adalah JAUHAR AWWAL RASULULLAH, TANDA KENYATAAN ADANYA DZAT.

JAUHAR AWWAL RASULULLAH isinya adalah RUH ILMU RASULULLAH, yang Awwal Akhir di ciptakan oleh Allah.

Ainal yakin dengan Ilmu, supaya bisa pulang, pulang kembali kepada Dzat, hakikatnya manusia berasal dari Dzat, akan tetapi manusia tidak perlu tahu kepada Dzat, tetapi carilah utusan Dzat, yang disebut Jauhar Awwal Rasulullah, inilah jalan pulang yang sempurna.

“Illa anna awalla’nafsah fardhu ‘ain”

Pertama hal ibadah adalah tahu kepada sejatinya hidup, sifat hidup harus di dapat, diri yang mana yang harus di cari? Apakah jasmani yang terlihat? Yang harus dicari adalah badan Ruhani atau Jiwa. Sejatinya syahadat adalah bibit segala rupa yaitu Jauhar Awwal [Ruh Ilmu Rasulullah] Samudra Ilmu dan Kehidupan.

“Ru’yatullahi Ta’ala fi dunya bi’ainil qolbi”

Melihat Hakikat Allah Ta’ala di Dunia oleh mata Baathin. Bila Qolbu manusia sudah dianugrahi Sifat Nur Ilmu Rasulullah, Qolbunya bisa dipakai untuk tempat melihat kepada Allah Ta’ala melalui mata Baathin karena sudah diberitahu oleh Sifat Nur Ilmu Rasulullah, sehingga bisa merasakan ni’mat dari Dunia sampai di Akhirat, sudah tidak merasakan berpisah dengan Sifat Nur Ilmu Rasulullah, lantaran wujud itu. Siang dan malam Qolbu ditempati oleh Sifat Nur Ilmu Rasulullah untuk melihat Allah Ta’ala, melalui jalan Syariat, Tharekat, Hakikat dan Ma’rifat, Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqih, Ushul Fiqih dan Ilmu Tasawuf.

“Ru’yatullohi Ta’ala bil akhiroti bi’ainil arsi”

Melihat Allah di Akhirat, tentu sama mata, tidak salah lagi, sebab sudah bersatu seperti gula dan manisnya.
Wajib hukumnya mencari tahu diri, diri yang sejati, diri manusia, sebenar-benarnya diri.
Cahaya empat rupa adalah ;
NARUN [Merah]
HAWAUN [Kuning]
MA’UN [Putih]
TUROBUN [Hitam]
yaitu badan ruhani [jiwa], inilah yang harus ketemu, jasmani harus hilang, tapi jangan hilang tanpa sebab, hilangnya harus terganti oleh cahaya empat rupa [Sifat Nur Ilmu Rasulullah] hilangnya badan jasmani, harus terganti oleh badan ruhani.

slide_2

Jas artinya adalah baju, mani adalah badan ruhani, baju adalah bungkus, bungkusnya ruhani, manusia tidak akan mendapatkan hasil, jika hanya mengetahui badan nyata saja, harus di buka dulu bajunya, supaya bisa ketemu dengan isinya, badan jasmani adalah hijabnya kepada Yang Maha Suci, jika tidak hilang wujudnya dulu, maka isinya tidak akan ketemu, diibaratkan kucing, maksud kucing hendak ngintip tikus keluar dari liangnya, tapi kucingnya diam di depan liang tikus, akhirnya tikus malah mati karena tidak bisa keluar, tentu saja tidak akan hasil, kucing diibaratkan jasad, tikus ibarat yang Latif, tidak akan ketemu jika rasa jasad tidak hilang.

Jika kucing menginginkan agar tikusnya keluar dari liang, tentu saja kucing harus pergi menjauhi liang tikus, barulah tikusnya keluar, sama seperti di diri manusia, jika ingin ma’rifat kepada Dzat Allah Ta’ala, harus merasa pasti, merasakan bahwa manusia tidak memiliki jasad. Rasa jasmani harus hilang, terganti oleh Rasa Rasulullah [SIFAT NUR ILMU]  > Ladun Qolbin Salim > Ladunni > Hati yang selamat. Rasa ni’mat yang sejati [Ni’mat Islam, Ni’mat Iman] karena saking ni’matnya melihat kepada Dzat Maha Agung, tentu merasa hilang dunia dan jasmani [Iman Akhirat, Rasa Akhirat]

“Waman aroffa nafsahu, faqod aroffa robbahu…man aroffa robbaha, faqod jahilan nafsah” “Lahaula wala quwata, illa billahil aliyil ‘adim”…
Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya, barang siapa mengenal Tuhannya pastilah bodoh dirinya …

Shalat sejatinya adalah ketika waktu Nafi Isbat bergulung, menerapkan Muhammad af’al. Ta’udz dan Bismillah untuk berlindung kepada Yang Maha Agung, disinilah adanya kebersamaan, yang empat bersatu, hilangnya dunia dan wujud, bertemu dengan wujud Agama, barulah dikatakan Islam jika sudah ketemu kepada sejatinya Agama/Ruh Samawi [Fitrah Agama] yaitu hidup manusia, tentu wajib hukumnya, untuk tahu kepada sejatinya Agama, agar ibadah menjadi sah, tahu bibit rukun Islam, rukunnya yang empat di badan:
1. Penglihatan
2. Pendengaran
3. Penciuman
4. Perkataan.
yang ke lima adalah Rasa Rasulullah [penguasa RASA]
jadi hakikatnya shalat adalah wujud rupa diri.

“Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin“,
“Shalat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“.

IHKROM – MI’RAJ – MUNAJAT – TUBADIL 
Artinya adalah shalat sejati, syariatnya ada di Mekkah, ketika orang pergi Haji, hakikatnya ada di pulau Jawa.

IHKROM
Bersiap-siap, menyiapkan tekad sebelum pergi, ibarat burung niat ingin terbang, sayapnya sudah dibentangkan tapi tidak dikepakkan.

MI’RAJ  
Jika sudah dengan terbang dan melayang, sudah meninggalkan Alam Dunia, lupa kepada Alam Dhohir.

MUNAJAT  
Sudah mau sampai ke Alam Baathin.

TUBADIL  
Sudah sampai kepada yang yang dituju, yaitu Baitullah suci, Baitullah sejati, bukan di Utara, bukan di Selatan, tidak di Timur dan di Barat [Billa haefin, Billa makanin] inilah yang di maksud hakikat Ka’bah atau Kubah [rongga dada manusia] Itiqod [tidak terkena rusak] kiblat nyawa yang sempurna yaitu Dzat Yang Maha Agung, sifatnya cahaya padang halus, terang benderang atau Jauhar Awwal Rasulullah, samudra ilmu dan hidup, kiblat waktu wafat. Bertemunya ASHHADU = Allah dan WA ASHHADU = Diri Manusia [Ghoib]

Sebab itu kiblat wafat wajib harus di ketemukan, jika tidak ketemu dikhawatirkan jadi gentayangan, nyawa tidak sampai kepada asalnya dahulu, pantas adanya Neraka yaitu siksaan diri, sebab tidak menemukan jalan pulang yang sempurna, mumpung di dunia harus bersungguh-sungguh mencari jalannya wafat, agar nyawa bisa pulang, BAB IBADAH sudah ada patokan yaitu Al-Qur’an dan Hadist, sudah mencukupi, tinggal bersungguh-sungguh menghafal dan prakteknya, kalau jalan mati, itu lain aturan, itu adalah penghujung, ujungnya harus wafat, yang ibadah dan yang tidak, semua manusia akan mengalami kematian, syariatnya sama, ada sekaratnya…

Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”

“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali r.a. menjawab, “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati dengan HAKIKAT KEIMANAN “.

Jika manusia yang ma’rifat, mutajilah sudah pasti, sebab menjirimkan Allah terlihat oleh mata kepala, yang berarti ada dua diri, Allah adalah NAFI ISBAT, ada Isbat hilang Nafi, ada Nafi hilang Isbat, Isbat adanya pasti, wujud jasmani, Nafi adanya Jiwa, untuk Nafi Isbat-nya harus tidak ada.

SIFAT NUR ILMU RASULULLAH adalah JAUHAR LATIF. Cahaya halus yang menghidupkan wujud manusia, matahari dalam wujud jagad shagir, yang tidak terlihat oleh mata kepala, dan hanya bisa di lihat dengan MATA BAATHIN.

AL – ILMU NURULLAH > Ilmu Sifat untuk mengabdikan diri kepada Allah dan Rasulullah, Ilmu Sifat tidak akan samar, wangi bunga rose tidak akan tertukar dengan wangi bunga melati. ‘Ain > Iliyin tempat tertinggi yang bisa di capai oleh orang berilmu. Ilmu Ladunni/Ilmu Sifat, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui proses kegiatan pengamalan, mulai dari mandi, shalat, wirid, baca Qur’an dll. Melalui jalan Syariat, Tharekat, Hakikat dan Mari’fat. Tuhan hanya bisa dikenal jika Dia sendiri berkehendak untuk dikenali. Sifat Nur Ilmu adalah kendaraan bagi baathin untuk sampai ke sisi-Nya, melalui Sifat Rasa Rasulullah. Tidak ada manusia yang bisa langsung ma’rifat kepada Allah Ta’ala, kecuali Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam melihat langsung dan berdialog dengan Allah Ta’ala.

Sifat Nur Ilmu ini akan menerangi qolbu, baathin, hati dan ruh, Sirr nya berperan menyingkap tabir hakikat dan mengenal akan Allah Ta’ala. Hakikat akan diketahui apabila seseorang giat mendalami pengetahuan tentang hakikat melalui proses pengamalan, khalwat atau tirakat, muqarobah, mandi, sholat, wirid melalui bimbingan Guru Mursyid > Allah, Ilmu Ma’sum > Ilmu Syafa’at yang bisa memisahkan unsur Sifat Malaikat [NURR] dan unsur Sifat Jinn [API] di dalam darah (Sifat darah ), seorang guru wajib menguasai 12 pan Ilmu, jika ilmunya tidak ma’sum, maka dikhawatirkan bangsa mahluk halus akan ikut-ikutan nyusup/masuk ke dalam pengamalan, sehingga seseorang itu tidak merasa bahwa di dalam dirinya sudah di tempati oleh Jinn, merasa berilmu padahal Jinn yang mengendalikan.

HAKIKAT+MANUSIA+(2)+Perangkat+Jati+Diri+MANUSIA

Sifat Nur Ilmu adalah cahaya yang menerangi hati dan mengeluarkannya dari kegelapan serta membawanya untuk menyaksikan sesuatu dalam keadaannya yang asli. Apabila cahaya atau latifah di diri sudah membuka tirai dan cahaya terang telah bersinar, maka mata baathin dapat memandang kebenaran dan keaslian yang selama ini disembunyikan oleh alam nyata. Semakin terang cahaya Illahi yang diterima oleh hati akan menambah jelas kebenaran yang dapat dilihatnya. Pengetahuan yang diperoleh melalui pandangan mata baathin yang bersumber dari Cahaya Awwal/Jauhar Awwal Rasulullah/Ruh Ilmu Rasulullah inilah yang dinamakan Ilmu Ladunni/Ilmu Sifat/Ilmu Syafa’at/Ilmu Shalat.

TINGKATAN MA’RIFAT 
1. Ma’rifat Sejati
2. Ma’rifat Suyudi
3. Ma’rifat Nur Imthinah [Baathin Rasulullah]

Nabi = Ilmu
Rasul = Shalat
Rasulullah = Ruh Ilmu
Muhammad = Af’al [pekerjaan]
RUH SHALAT = RASULULLAH

HAKIKAT KEHIDUPAN  
1. Sebelum Shalat
2. Di dalam Shalat
3. Di luar Shalat

SHALAT adalah KEPALA AMAL
HAKIKAT 17 RAKA’AT : 4 x 4 = 16
17 = Diri Manusia = Ghoib [ada tapi tidak ada, tidak ada tapi ada]
1. DZAT
2. SIFAT
3. ASMA
4. AF’AL

1. Nur Darah Merah
2. Nur Darah Kuning
3. Nur Darah Putih
4. Nur Darah Hitam

1. Nafsu Amarah
2. Nafsu Sufiah
3. Nafsu Lawammah
4. Nafsu Muthmainah = Rahmat

1. Al-Qur’anul MAJID
2. Al-Qur’anul KARIM
3. Al-Qur’anul HAKIM
4. Al-Qur’anul ADHIM

1. RASUL PERTAMA
NABI ADAM ‘ALAIHISSALAM. Pertama kali Allah membuat utusan yaitu Nabi Adam ‘alaihissalam, syahadatnya ; “ASHHADU ANLAILAAHA ILLALLAHU WA ASHHADU ANNA ADAM KHALIFATULLAHI “
“ Kamu Adam di kehendaki oleh Kami, menjadi utusan, tetapi kamu sekarang jangan mau ma’rifat kepada Kami, cukup mengetahui saja dulu, sebab wujud kamu adalah kenyataan adanya Kami “. Dalilnya ; “ Wallahu baathinul insan, Al insanu dohirullah “, tapi wujud kamu pribadi sekarang harus Shalat yaitu dua raka’at, waktu subuh keluarnya fajar, sebabnya harus shalat karena kamu harus menerima punya NYAWA, keduanya punya WUJUD, itulah asalnya ma’na adanya Shalat Subhi.

2. RASUL KEDUA.   NABI NUH ‘ALAIHISSALAM, syahadatnya ; “ASHHADU ANLAILAAHA ILLALLAHU WA ASHHADU ANNA NUH HABIBULLAH “.

“ Hai… Kamu Nuh dikehendaki oleh Kami jadi utusan, tetapi kamu sekarang jangan ingin ma’rifat kepada Kami, ketahui dulu PENDENGARAN kamu yaitu pendengaran AKU”.
Dalilnya ; Sama-Sami’an, dan “ Sekarang kamu harus Shalat waktu Duhur, banyaknya 4 raka’at, harus menerima punya DUA TELINGA dan DUA KAKI “, makanya manusia wajib Shalat karena menerima punya dua telinga dan dua kaki.

3. RASUL KETIGANABI IBRAHIM ‘ALAIHISSALAM, syahadatnya ; “ASHHADU ANLAILAAHA ILLALLAHU WA ASHHADU ANNA IBRAHIM KHALILULLAHU “.

“ Hai… kamu Ibrahim,sekarang sudah jadi utusan, tapi kamu jangan ingin ma’rifat kepada AKU, ketahui dulu PENGLIHATAN kamu yaitu penglihatan AKU”. Dalilnya ; “ Basar dan Basiran”, sekarang kamu harus segera sujud, harus Shalat 4 raka’at Asyar waktunya pasti, sebab kamu mempunyai DUA MATA dan DUA TANGAN “ begitulah asalnya mengapa ada Shalat Asyar.

4. RASUL KEEMPATNABI MUSA ‘ALAIHISSALAM, syahadatnya ; “ASHHADU ANLAILAAHA ILLALLAHU WA ASHHADU ANNA MUSA KALAMULLAH “.

“ Hai…kamu Musa utusan AKU pribadi, tapi jangan ingin tahu kepada Dzat Sifat AKU, ketahui dulu PERKATAAN kamu, yaitu sudah pasti PERKATAAN AKU “. Dalilnya ; “ Kalam Mutakalliman “ Shalatlah 3 raka’at waktu magrib, sebab kamu sudah pasti punya BIBIR, kedua mempunyai PERKATAAN / LISAN dan ketiga mempunyai HATI.

5. RASUL KELIMA, NABI ISA ‘ALAIHISSALAM, syahadatnya ;  “ASHHADU ANLAILAAHA ILLALLAHU WA ASHHADU ANNA ISSA RUHULLAHI “.

” Kamu Isa sudah menjadi utusan Kami, tapi kamu tidak harus tahu kepada Dzat AKU, ketahui dulu nafas / PENCIUMAN kamu pribadi, sebab nafas kamu itu adalah kenyataan hidup AKU ” , sekarang kamu harus Shalat pada waktu Isya 4 raka’at karena di diri kamu adalah kenyataan DUA LUBANG HIDUNG bukti adanya NAFAS, yang ke empatnya ada DARAH sudah bukti, sebab jika darah tidak ada, nafas juga tidak ada, makanya sekarang harus Shalat di waktu Isya, sebab asalnya dari Nabi.

6. RASUL KEENAMNABI MUHAMMAD SHALALLAHU ‘ALAIHI WASSALAM. Syahadatnya ;  “ASHHADU ANLAILAAHA ILLALLAHU WA ASHHADU ANNA MUHAMMADUR RASULULLAH “.
Hai… Muhammad kamu adalah utusan Kami, sekarang kamu harus ma’rifat kepada AKU, sebab kamu yang paling dekat dengan AKU. Dalil Qur’an ;

“ Al INSANU SIRI WA ANA SIRUHU “

IMG_20180608_133232

artinya “ Kamu Muhammad adalah RASA AKU “, sudah tentu karena pangkatnya tidak salah yaitu Muhammad Rasulullahi, ini AKU memberimu buraq untuk nanti menghadap ke hadirat AKU “ dan akan turun kepada anak cucu, terus kepada para Wali semua sampai kepada hari Kiamat, juga Muslimin dan para Auliya yang mendapatkan pertolongan Allah

Begitulah sejarahnya, tapi heran bangsa Islam suka mungkir, keukeuh katanya tidak akan tersusul, Allah sudah berjanji kepada Baginda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam, sudah bersabda terus sampai hari Kiamat akan turun buraq – buraq tadi, tentu saja tidak akan ketemu, jika kita diam di Tharekat puji tidak menyusul kepada Tharekat Ilmu, tidak memakai Ijma Qiyas, tegasnya hukum akal tidak di susul, tanpa akal tidak akan terjadi.

Hakikatnya Adam nyatanya adegan WUJUD pribadi
Hakikatnya Nuh nyatanya PENDENGARAN
Hakikatnya Ibrahim nyatanya PENGLIHATAN
Hakikatnya Musa nyatanya PERKATAAN
Hakikatnya Isa nyatanya PENCIUMAN, SIFAT NAFAS sudah pasti

Muhammad adalah RASA JASAD dan pantas Muhammad di sebut di tiap Hadist, Penghulunya, “ Kamu adalah utusan Kami, sekarang kamu harus ma’rifat kepada AKU, sebab kamu yang paling dekat ”. Jika tidak punya RASA, wujud akan berbaring tidak bisa bergerak dan berbalik, hakikatnya semua para Rasul, sudah bergulung pada jasad, tidak kekurangan lagi.

“TIDAK ADA SEORANGPUN YANG BISA MA’RIFAT DZAT KECUALI NABI MUHAMMAD RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WASSALAM “.

Jika ada seseorang yang mengaku sudah TAUHID DZAT /  MA’RIFAT DZAT (MAHA GHAIB), maka dia menjadi MURTAD tidak salah lagi, orang seperti ini jangan di dekati, bisa menjadi menular dan terkena murtad, sudah banyak yang seperti ini, yang berceritapun orang yang ngajinya sudah puluhan tahun. Jika ngaji Hadist dan Dalil, harus di barengi ngaji QIYAS, IJMA harus di susul, agar jangan keliru AKALnya di pakai.

Kata Hadist “ Tidak ada seorangpun yang bisa ma’rifat kepada Dzat Maha Agung “, tentu saja, sebab yang namanya orang sudah pasti melihatnya menggunakan mata kepala, jika begitu benar sekali, MUTAJILAH tidak salah lagi, sebab menjirimkan sudah pasti, menjirimkan Allah, ada kita juga berbarengan ada itu, jadi ada HIDUP dua.

Hadist tidak salah yaitu perkataan para Rasul dan para Nabi, yang salah sudah pasti yang ngajinya, ma’na kitab tidak dipikirkan lagi. Ma’na kitab Qur’an, ada dua yang sudah di tulis di “ Lam yakunil Syahrul bariyyah, Khairul bariyyah “, ma’na yang kasar dan ada ma’na yang halus, kasar untuk Neraka, yang halus untuk bagian Surga, kata Qur’an adalah begitu, apakah akan tidak percaya kepada dalil Qur’an yang sudah pasti, dalil tidak boleh di rubah, ma’na pun begitu juga, hanya saja wajib dengan Ilmunya, ma’na dalil di mengerti keluar dan ke dalamnya, hukum Qiyas di jalankan, sebab untuk menyempurnakan maksud tidak ada jalan lagi harus memakai akal, Ilmu Lahir dan Ilmu Baathin.

Katanya tadi di Hadist di sebut, “ Tidak ada yang bisa ma’rifat kepada Allah kecuali Baginda Nabi Muhammad Rasul “, benar sekali, tapi jangan menetapkan saja ke situ. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam Mekah itu adalah yang menjadi bibit, bibitnya yang ma’rifat, tapi carilah hakikat Nabi yang ada di wujud ; RASULULLAH ITU TIDAK PUPUS SEBAB JIKA PUPUS DUNIA INI PASTI LEBUR

yang pupus adalah majajinya, hakikatnya tidak mati. Carilah RASA Rasulullah tegasnya RASA Allah di sekujur wujud, jika sudah ketemu, tentu saja ma’rifat, kepada Dzat Maha Agung karena itulah yang ma’rifat. Orang berilmu mengenal Allah harus melalui SIFAT RASA RASULULLAH [Jauhar Awwal] = TAUHID SIFAT / MA’RIFAT SIFAT.(GHAIBUL GHAIB) Al-insan al-kamil adalah manusia yang telah memiliki dalam dirinya SIFAT NUR ILMU RASULULLAH nyatanya yaitu RASA dan awasnya BAATHIN.

“ BARANG SIAPA MENGENAL DIRINYA, MAKA DIA AKAN MENGENAL TUHANNYA “

Wujud orang tidak akan bisa melihat,tetap saja paling bodoh, tidak punya daya dan upaya pasti, hanya RASA Maha Agung yang tetap tahu, yang MELIHAT TIDAK MEMAKAI MATA, BERKATA TIDAK MEMAKAI BIBIR, MENDENGAR TIDAK MEMAKAI TELINGA.

Yang ghaib di wujud kita harus ketemu supaya bisa pulang, pulang kepada RASA AKHIRAT dahulu yaitu RASA Allah, sebab jika tidak ketemu sekarang tentu tidak akan bisa pulang kepada rasa yang tadi, akan tetap di RASA DUNIA / IMAN DUNIA, balik lagi ke Dunia menjadi gentayangan menjadi arwah (Sifat Nyawa), terkurung oleh Alam Dunia, tegasnya belum keluar, masih tetap di “pembuangan”, buktinya banyak siluman, jinn, dedemit.

RUKUN SHALAT
1.      Rukun Qalbi adalah rukun yang bersumber pada hati
2.      Rukun Fi’li adalah rukun yang bersumber pada perbuatan/tindakan dari anggota badan
3. Rukun Qauli adalah rukun yang bersumber pada ucapan/bacaan/pekerjaan

PUJI HADIST ‘ALAL HADIST 
Puji baru kepada yang baru, ibaratnya kita memuji kepada wujud orang lain, sama pada – pada baru, jika memuji kepada orang bukanlah bab Ilmu karena tidak akan menjadi manfa’at, memuji itu harus kepada Allah, orang tidak wenang untuk di puji, jangan menyamai Maha Agung, di syahadatpun Allah hanya satu yang wajib di ibadahi, dalil adalah aturan Ilmu sudah pasti, bukan untuk memuji kepada makhluk tapi tetap untuk Allah dari makhluknya, kalau memuji ke sesama orang itu adalah aturan lain hanya untuk di Dhohir

Puji baru kepada yang baru adalah pada waktu baca kitab dan Qur’an, pada – pada baru pasti. Huruf Qur’an tentu saja baru hasil pekerjaan Nabi, yang Qadim adalah perkataannya, hurufnya baru adalah pasti, ketika kita yang bacanya, suaranya baru, suara baru ada adalah sesudah kita ke Alam Dunia, ketika di Alam Rahim tidak ada suara.

PUJI HADIST ‘ALAL QADIM 
Puji Hadist ‘alal Qadim, yang baru memuji kepada yang Qadim, yang baru adalah wujud, berdiri, ruku, sujud, duduk, attahiyat, sama baru yang Qadimnya ialah Nur Muhammad asal tadi cahaya yang empat rupa.

PUJI QADIM ‘ALAL QADIM 
Qadim memuji yang Qadim adalah ketika Shalat sejati, sudah pasti di situ pada Qodim yang memuji dan dipujinya buktinya tidak memakai bibir, pada Qodim semuanya.

PUJI QADIM ‘ALAL HADIST
Qadim memuji kepada yang baru, jika ibadahnya dibarengi dengan ma’rifatnya kepada Dzat Maha Suci. Ibadah dengan Ilmu inilah yang dipuji, sudah sah Dzat, sah Sifat, sah Asma dan sah Af’al, berada dalam KESADARAN MURNI, apalagi ibadahnya, berbalik dan bergerak sudah pasti menjadi puji semuanya, sebab sudah tetap dalam keadaan sadar, tidak mengakui gerak sendiri, semua hanya karena kehendak Allah.

NABI MUHAMMAD AWWAL dan AKHIR
Ruh Ilmu Rasulullah adalah bibit tujuh bumi tujuh langit, sesudah ada Nabi Adam dan Siti Hawa yaitu bibit yang mengeluarkan umat manusia, tetap saja Nabi Muhammad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam yang menjadi awwal dan akhirnya, ketika Adam dan Hawa mau punya anak, tentunya dua rasa bertemu, RASA hakikatnya adalah RASULULLAH, jika tidak ada rasa tidak akan keluar mani, dua-duanya juga luput, mani adalah hakikat Adam, Adam dari cahaya Ruh Ilmu Rasulullah, yaitu cahaya RASA, mani tadi menjadi rupa :

KEPALA menjadi MIM
DADA menjadi HA
PUSAR menjadi MIM
KAKI menjadi DAL

Menjadi lafadz Muhammad, akhirnya rasa yang tadi menjadi rupa manusia disebut Muhammad Awwal dan Akhir. Nabi penutup maksudnya adalah penutup ilmu, yg empat dilakukan yaitu Syariat dan Hakikat. Tharekatnya di jalani, jalan Ma’rifat kepada Allah, sampai kepada Yang Maha Suci, menjadi pangkatnya Nabi Muhammad Rasulullah, karena sudah ma’rifat kepada Allah.
Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sebagai Nabi penutup yang berada di Madinah [Jasad]

Muhammad majaji-nya sudah pasti yaitu syariatnya yang ma’rifat, Muhammad hakiki-nya adalah Wujud Sifat Nur Ilmu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang hidup kekal abadi.

HAKIKAT ILMU ADALAH IMAN, suatu anugrah dari Allah Ta’ala kepada manusia yang paling mulia Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam, manusia yang tidak mempunyai bayangannya sendiri, manusia yang tidak pernah menguap, manusia yang lahir dalam keadaan sudah di sunat, setiap langkahnya di rindukan oleh bumi, di berinya Ilmu dan keimanan yang sempurna [Ruh Ilmu Rasulullah] dipersiapkan jasad dan jiwanya untuk menerima mu’jizat terbesar yaitu Al-Qur’an dan sebagai Nabi penutup akhir jaman [Jasad]
Rahmatan lil Alamin…
Rahmat bagi seluruh alam…
Di utus untuk membersihkan akhlaq baathin manusia dari berhala…

Bergelar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Sifatnya ; Siddiq, Amanah, Fathanah dan Tabligh.
Sebagai pembawa risalah/Nubuwwah yang ma’sum jasad dan jiwanya, suci dan bersih dari Idajil, Iblis, Setan dan Jinn, isinya adalah 10 Malaikat dan Rahmat. Semua 25 Nabi dan Rasul bertindak bukan berdasarkan HAWA NAFSU, tapi berdasarkan risalah NUBUWWAH kenabian, yang isinya adalah RUH ILMU RASULULLAH.

Orang yang taat kepada perintah-Nya senantiasa kuat melakukan ibadah dan meningkatlah kekuatan ruhaninya. Dia akan kuat untuk menyerahkan semua urusan kehidupannya kepada Allah saja. Dia tidak lagi takut apapun yang menimpanya. Dia tidak lagi tergantung kepada sesama makhluk. Hatinya teguh dan ikhlas dengan semua ketentuan-Nya.

Bahaya dan bencana sehebat apapun tidak lagi menggugat imannya dan keni’matan duniawi tidak lagi menggelincirkannya. Baginya suka dan duka, bencana dan keberuntungan sama saja, karena ini takdir yang sudah ditentukan Allah untuknya, dan takdir-Nya kepadanya pasti yang terbaik.

Orang yang seperti ini sentiasa di dalam penjagaan Allah, karena dia telah menyerahkan dirinya kepada Allah dan Rasulullah. Allah menganugerahi orang ini dengan kemampuan untuk melihat dengan mata hati dan bertindak melalui Petunjuk Ladunni (Ilham), tidak lagi melalui pikiran, kehendak diri sendiri atau angan-angan. Pandangan mata hati kepada hal ketuhanan memberi kesan kuat kepada hatinya (qalbunya). Dia mengalami suasana yang menyebabkan dia menafikan perwujudan dirinya dan diisbatkannya kepada Wujud Allah Ta’ala.

Suasana ini timbul akibat hakikat ketuhanan yang dialami oleh hati.. Dia merasakan benar-benar akan keesaan dan kuasa-Nya Allah, bukan sekadar mempercayainya. Hakikat sesungguhnya hanya bisa di alami dengan mata baathin. Mata baathin melihat atau menyaksikan keesaan Tuhan dan hati merasakan akan keadaan keesaan itu. Mata baathinnya melihat kepada Wujud-Nya, tidak lagi melihat kepada wujud dirinya. Orang yang di dalam suasana seperti ini telah transenden dari sifat-sifat kemanusiaan. Orang yang mencapai tingkat ini dikatakan telah mencapai maqam Ma’rifat Sejati, Ruh Iman. Hatinya jelas merasakan bahwa tidak ada yang berkuasa melainkan DIA dan segala sesuatu datangnya dari Allah.

Yang perlu digarisbawahi, bahwa perjalanan spiritual manusia akan melalui beberapa tingkatan dalam proses mengenal Tuhan. Pada tahap pertama terbuka mata baathin dan cahaya Qalbu memancar menerangi akalnya. Seorang yang akalnya diterangi cahaya Qalbu akan melihat betapa dekatnya TUHAN. Dia melihat dengan ilmunya dan mendapat keyakinan yang dinamakan Ilmul Yaqin.

Pada tahap keduanya mata baathin yang telah terbuka. Seseorang tidak lagi melihat dengan mata ilmu tetapi melihat dengan mata baathin dan mata baathin memandang itu dinamakan Kasyaf. Kasyaf melahirkan pengenalan atau ma’rifat. Seseorang yang berada di dalam maqam ma’rifat dan mendapat keyakinan melalui kasyaf dikatakan memperoleh keyakinan yang dinamakan Ainul Yaqin. Pada tahap Ainul Yaqin seseorang telah menceburkan diri di wilayah keghaiban segala sesuatu termasuk dirinya sendiri.

Shalat itu suci, Ruh shalat suci, Al-Qur’an suci, Ruh samawi itu suci, sehingga di perlukan persiapan kebersihan untuk masuk arena shalat, segala beban dan permasalahan duniawi sudah harus ditinggalkan, yang ada hanyalah pasrah, pasrah dalam arti manusia tidak memiliki kuasa apapun, ibaratnya, jika sebentar lagi akan di cabut nyawa, sudah tidak ada lagi yang dicintainya karena Rasa Dunia sudah terganti dengan Rasa Akhirat, Iman Dunia sudah terganti dengan Iman Akhirat…

“ALASTUBIRAFBIKUM QOLU BALA SYAHIDENA”
” Bukankah aku ini Tuhanmu ? Betul engkau Tuhan kami,kami menjadi saksi “

“Aku berlindung dengan ridha-Mu dari amarah-Mu, dan aku berlindung dengan ampunan-Mu dari murka-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu”.

Jati Diri

Bahaya Salah Memahami Jati Diri

Masih banyak yang bingung tentang konsep jadi diri. Maka ada ada istilah mencari jati diri. Apakah Anda sudah menemukan jati diri Anda? Atau masih mencarinya?

Terlepas apakah Anda sudah menemukannya atau belum, maka perlu di pertimbangkan lagi, apakah konsep jati diri kita sudah betul tidak? Jika salah, bahaya! Sebab semua tindakan kita akan berdasar pada konsep jati diri kita. Jika salah, maka tindakan dan perilaku kita akan salah. Kita bisa celaka, baik di dunia dan di akhirat.

Apa Itu Jati Diri?

Sering kali orang membuat definisi jati diri adalah jawaban dari 3 pertanyaan ini:

  1. Siapa aku?
  2. Dari mana aku?
  3. Dan aku mau kemana?

Ya, pertanyaan ini memerlukan pemikiran mendalam untuk mengetahui jawaban yang benar. Tidak sedikit orang yang masih kebingungan dan akhirnya melupakan untuk menjawab ketiga pertanyaan ini. Yang penting, jalani saja hidup ini.

Bolehkah Kita Mengabaikan Penemuan Jati Diri?

Apakah kita perlu “meributkan” tentang jati diri? Ya, kita perlu memahami siapa diri kita. Jika tidak, untuk apa kita hidup? Hidup kita akan tanpa arah, tanpa makna, tanpa arti. Sebab, bagaimana kita bisa memiliki hidup yang bermakna sementara kita tidak mengetahui siapa kita dan mau kemana.

Jadi jawabannya: kita tidak boleh mengabaikan ini, kecuali Anda ingin hidup berlalu tanpa makna.

Apakah Jati Diri Itu Membahas Bakat dan Ketertarikan Kita?

Tentu saja kita memahami bahwa kita memiliki keunikan masing-masing. Mencari kelebihan dan potensi unik kita tentu saja sangat penting dalam kehidupan kita. Namun, yang kita perlukan tidak sebatas menemukan bakat spesial kita. Kita juga tidak bisa mengatakan bahwa orang yang sukses itu sudah menemukan jati dirinya.

Dimanakah Kita Bisa Menemukan Jadi Diri Kita?

Tidak ada yang lebih mengetahui diri kita selain yang menciptakan kita, Allah Yang Maha Mengetahui. Mengapa kita harus mencari makna jati diri dari selain Allah? Mengapa hidup kita dikendalikan oleh konsep-konsep jati diri yang bukan dari Allah? Ini sangat penting, sebab dari Allahlah kita akan menemukan jawaban yang tepat, dijamin tidak akan salah sehingga hidup kita akan lebih berarti.

Tentu saja, Anda tetap boleh (bahkan harus) untuk terus menggali bakat dan potensi Anda. Yang ingin saya tekankan disini, bahwa jati diri itu bukan sebatas itu. Itu adalah keunikan Anda, bukan jati diri Anda.

Jati Diri Manusia Sesungguhnya

Siapa Aku?

Manusia adalah mahluq Allah yang terbuat dari tanah dan berikan ruh olah Allah. Kemudian manusia dilengkapi dengan potensi hati, akal, dan jasad. Hati dan akal adalah potensi yang menyebabkan manusia memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan dengan makhluq lainnya.

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS As Sajdah:7-9)

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, (QS. Al Hijr:28)

Untuk Apa Aku Ada?

Ada dua tujuan penciptaan manusia yang saling terkait yaitu dijadikan khalifah dimuka bumi dan untuk beribadah kepada Allah. Tidak ada tujuan lain! Semua aktivitas, semuanya harus dalam rangka kedua peran kita ini. Sebagai khalifah dan sebagai hamba Allah.

Untuk itu, Allah sudah membeli kita semua dengan potensi yaitu hati, akal, dan jasa yang cukup untuk memikul dua tugas ini. Selama kita memanfaatkan semua potensi yang kita miliki, kedua tugas ini akan terlaksana dengan baik.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz Dzaariyaat:56)

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al Baqarah:30)

Akan Kemana Aku?

Bukan hanya menuju anak-anak bagi bayi. Bukan hanya menuju remaja bagi anak-anak. Bukan hanya menuju dewasa bagi remaja. Bukan pula hanya menjadi tua bagi Anda yang sudah dewasa. Seungguhnya, tujuan pasti setiap manusia itu adalah kampung akhirat. Dan hanya ada dua pilihan kampung akhirat, yaitu syurga (Al Jannah) dan neraka (An Naar).

Kita memilih yang mana? Tentu saja, bagi kita orang yang beriman, kita berharap mendapatkan balasan syurga dari Allah. Syaratnya adalah hidup kita sesuai dengan tujuan keberadaan kita, yaitu sebagai khalifah dan beribadah kepada Allah.

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka jannah tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan. Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir) maka tempat mereka adalah jahannam. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya.” (QS As Sajdah:19-20)

Kesimpulan

Mudah-mudahan, setelah kita memahami siapa kita, mengapa kita ada, dan mau kemana kita nanti, pikiran kita tidak galau lagi karena bingung tentang jati diri. Kini sudah jelas, apa yang perlu kita jalani dan konsekuensinya ke depan. Dan inilah fokus kita saat ini, yaitu menjalani hidup untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi hari esok.20161122_163608

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Hasyr:18)

Insya Allah akan ditambahkan pembahasan tentang jati diri lebih jauh lagi pada artikel-artikel mendatang.

PURNALISTIK CIPTA RASA KARSA

MENGUNGKAP RAHASIA KEKUATAN CIPTA RASA KARSA

POTENSI+BUDAYA+CIPTA.+RASA.+KARSA.+KEMAMPUAN+BERPIKIR.+YANG+MENIMBULKAN.+ILMU+PENGETAHUAN.+KARYA+SENI+

Ketika Rhonda Byrne menerbitkan The Secret, gemanya nyaris memenuhi planet ini. Dunia seolah tersentak, The Secret tidak lagi menjadi rahasia bagi siapapun.

Dalam pandangan Rhonda, The Secret adalah rahasia kesuksesan yang dimiliki tokoh-tokoh besar dan sejumlah orang sukses dari berbagai belahan dunia sejak zaman 3000 tahun sebelum Masehi hingga abad modern sekarang.

Berpijak pada Hukum Ketertarikan (Law of Attraction), Rhonda Byrne berhasil mengemas The Secret menjadi sebuah karya menakjubkan dalam bentuk buku, website dan DVD. Pundi-pundi uangnya pun bertambah.

Apa yang dikatakan Rhonda benar adanya. Setiap bangsa di dunia memiliki resep sukses yang cenderung memiliki kesamaan dengan bangsa lainnya di dunia, termasuk Indonesia.

Dalam tradisi budaya Nusantara, resep sukses itu terangkum dalam istilah cipta, rasa dan karsa. Tiga komponen kata tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan (tritunggal). Pada masa lalu, kemampuan manusia dalam mengolah cipta, rasa, karsa telah menghasilkan peradaban menakjubkan.

Cipta, rasa dan karsa merupakan kekuatan manusia dalam mempertahankan kelangsungan hidup. Inilah yang melahirkan peradaban besar di masa lalu, sebagaimana ditunjukkan orang-orang yang hidup pada masa Majapahit, Mataram, Singasari, Demak, Sriwijaya, dll. Begitupula dengan tokoh-tokoh besarnya, seperti Gajah Mada, Hayam Wuruk, Sultan Agung, Prabu Siliwangi, Wali Songo, Sukarno, Arupalaka, Diponegoro, dll.

Itulah sebabnya, umumnya orang-orang tua dahulu sering mengatakan bahwa apabila kita bisa menyelaraskan 3 komponen kata di atas, maka kita akan bisa merasakan nikmatnya kehidupan (kemakmuran dan kebahagiaan).

Ketiga komponen (cipta, rasa dan karsa) tersebut merupakan bagian dari sistem kebudayaan Nusantara yang tak terpisahkan dari bingkai utamanya, yaitu spiritualitas.

Penyederhanaan Makna

Makna cipta, rasa dan karsa memang terkesan sulit dipahami. Terutama pemahaman hakekatnya. Banyak yang mengetahui ketiga istilah tersebut, tetapi tidak banyak yang mengetahui cara menggunakannya. Penyederhanaan diperlukan untuk lebih memahami maknanya, sehingga dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Apabila dikaji lebih jauh, ternyata makna ketiga kata itu sederhana. Meski begitu, terdapat perbedaan cara dalam menerapkannya. Perbedaan itu terletak dalam tradisi daerah masing-masing (budaya turun temurun, seperti ritual-ritual, tapa brata, kaharingan, kejawen, dll.) dan dalam tradisi dengan unsur keagamaan samawi, seperti puasa, zikir, tarekat dan ajaran tasawuf. Tetapi hakekatnya tetap sama.

Secara singkat dapat dikatakan, cipta berarti keinginan menciptakan sesuatu (tahap awal berada dalam pikiran). Dibutuhkan kekuatan visualisasi atau daya cipta terhadap keinginan itu.

Tahap berikutnya adalah rasa atau merasakan sesuatu yang tercipta dalam pikiran. Sesuatu yang kita ciptakan dalam pikiran seolah-olah sudah maujud dan kita dapat merasakan kehadirannya.

Setelah sesuatu tercipta dalam pikiran yang disusul dengan merasakan hasil ciptaannya, maka dilanjutkan dengan karsa atau berupaya mewujudkan keinginan tersebut secara nyata, sehingga dapat dilihat, disentuh dan dimanfaatkan (berdaya guna).

Cara menggunakan cipta, rasa dan karsa adalah saat sedang berdoa.00.00.19.8.42.THN

Berdoa

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Doa adalah permohonan hamba kepada Tuhan. Hadits Rasulullah SAW mengungkapkan: “Doa adalah pangkal (otak)nya Ibadah” dan “Masing-masing kalian harus meminta kepada Tuhan kalian atas semua kebutuhan. Bahkan ia harus meminta kepada Allah saat tali sandalnya putus,” (HR. Tirmidzi).

Banyak riwayat Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan dan mendorong seorang hamba untuk berdoa, diantaranya :“Mintalah kepada Allah akan kemurahanNya, karena sesungguhnya Allah senang apabila dimintai (sesuatu).” (HR. Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud).

Doa pasti dikabulkan Allah SWT. Hal ini tercantum dalam FirmanNya: “(Dan) Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Aku kabulkan bagimu.” (QS; Al Mukmin: 60). “(Dan) apabila hamba-hambaKu bertanya tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu.” (QS; Al Baqarah: 186).

Pengabulan doa dari Allah SWT bersifat pasti dan hanya Dia yang dapat mengabulkan doa. Pengabulan doa bisa sesuai dengan yang diminta hambaNya, ditangguhkan hingga hari kiamat atau dijauhkan dari suatu keburukan.

Dalam berdoa terdapat adab tertentu yang dicontohkan Rasulullah SAW. Seperti dikatakan Imam Husain ra, ”Nabi SAW memiliki kebiasaan mengangkat tangannya ketika beliau berdoa dan memohon kepada Allah seperti pengemis yang meminta-minta untuk mengharap suatu makanan.”

Para ulama juga seringkali menegaskan kedekatan antara manusia dengan Tuhan. Mereka mengingatkan kita tentang ayat-ayat Al Quran yang berbunyi: “Maka dimanapun kamu menghadap, di situlah wajah Allah,”( Q.S; Al Baqarah: 115)Dia bersama kamu di manapun kamu berada,”(Q.S; Al Hadid: 4), “…dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat leher,” (Q.S; Qaf:16).

Cara Menggunakan

Tujuan doa seperti diuraikan di atas adalah untuk membentuk imajinasi orang yang berdoa sesuai dengan syariat agama. Dengan demikian, orang yang beribadah harus sungguh-sungguh dalam ibadahnya dan keinginannya harus kuat. Karena sesuatu yang Allah SWT berikan tidaklah berat bagiNya. Adapun cara menerapkannya dalam konteks cipta, rasa dan karsa adalah sbb:

Cipta

Proses penerapan cipta ini menggunakan kekuatan pikiran dan imajinasi. Pada saat berdoa atau memohon kepada Tuhan, maka kita harus mengetahui apa yang kita minta atau mohonkan itu. Sehingga kita harus memahami arti dan makna dari doa-doa yang kita panjatkan.

Selain memanjatkan doa sebagaimana diatur dalam syariat agama, kita biasanya juga berdoa untuk hal-hal khusus yang diinginkan. Misalkan, keinginan memiliki pekerjaan, uang, rumah, pendamping hidup, dll. Umumnya doa itu diucapkan dalam bahasa ibu.

Dengan kata lain, ketika kita menginginkan sesuatu dalam kehidupan, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah harus jelas apa yang sungguh-sungguh kita inginkan.

Agar daya cipta terhadap apa yang kita inginkan menjadi jelas, tulislah apa yang diinginkan tersebut dengan jelas. Tidak ada batasan terhadap apapun yang diinginkan, sepanjang untuk kebaikan sendiri. Buatlah skala prioritas dalam catatan keinginan dan tumbuhkan hasrat terhadap keinginan.

Kemudian lakukanlah visualisasi terhadap keinginan itu. Untuk mempermudah visualisasi, gunakanlah gambar atau foto. Katakanlah kita menginginkan rumah, maka ambillah gambar rumah, lalu letakkan di manapun kita dapat melihatnya setiap saat.

Gambar tersebut akan membantu kekuatan daya cipta terhadap apa saja yang kita inginkan. Visualisasi adalah salah satu daya cipta yang sangat kuat dalam benak kita. Ketika memvisualisasikan sesuatu, seolah-olah kita sedang membentuknya.

Rasa

Cara menerapkannya menggunakan kekuatan perasaan batin atau emosi jiwa. Setelah kita menggunakan daya cipta terhadap keinginan, maka dilanjutkan dengan merasakan dalam batin bahwa keinginan tersebut telah hadir dan dirasakan.

Inilah sebenarnya yang dimaksud agar dalam berdoa harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan yakin doanya pasti dikabulkan. Apapun permohonan kita tidaklah sulit bagi Tuhan untuk mengabulkannya. Kita harus selalu berprasangka baik kepada Tuhan, karena Tuhan mengikuti persangkaan hamba-hambaNya.

Sehingga kita harus percaya apa yang kita minta sudah menjadi milik kita dan telah menerimanya. Seseorang yang berdoa dengan keyakinan penuh seperti ini akan terlihat ekspresi wajahnya usai berdoa, yaitu diliputi perasaan bahagia, senang dan gembira. Meski saat berdoa tangan bergetar dan mata berlinang air mata. Sangatlah penting untuk merasa diri kita selalu dalam keadaan baik dan bahagia.

Pada intinya tidak boleh ada keraguan sedikitpun. Keraguan dapat merusak daya cipta dan perasaan kita sendiri. Karena itu, rasakan seolah-olah kita telah menerima apa yang kita inginkan. Itulah sebabnya, kita harus benar-benar berhasrat terhadap apapun yang diinginkan.

Seperti diuraikan sebelumnya, keinginan itu harus jelas dan jangan setengah-setengah. Misalkan, seseorang memiliki keinginan untuk bekerja di perusahaan pertambangan, tetapi dengan hasrat yang tidak terlalu menggebu-gebu atau sekadarnya saja.

Ketika kemudian keinginan itu tercapai, biasanya tidak akan betah bekerja di perusahaan tambang tersebut. Hal ini terjadi karena hasratnya memang tidak ada. Tentu sia-sia saja keinginan itu. Bahkan terkesan menolak pemberian Tuhan, meski sebelumnya orang itu yang meminta. Jadi jangan main-main dengan doa. Harus sungguh-sungguh.

Karsa

Karsa bermakna keinginan atau kemauan yang kuat. Apabila dalam tahap cipta dan rasa, keinginan-keinginan itu masih tak kasat mata, maka dalam tahap selanjutnya keinginan itu harus diupayakan maujud sehingga dapat dilihat, disentuh dan dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Karsa berarti kekuatan untuk mewujudkan keinginan tersebut menjadi nyata. Persoalannya adalah dengan cara bagaimana mewujudkannya?

Tugas kita sebenarnya bukanlah menemukan bagaimana caranya. Sebab cara itu akan muncul dengan sendirinya dari komitmen dan keyakinan pada apa yang diinginkan. Cara adalah urusan Tuhan.

Dengan kata lain, Tuhanlah yang selalu tahu cara tersingkat, tercepat dan terharmonis dalam mewujudkan keinginan kita. Jadi yang perlu dilakukan adalah bekerja (apapun pekerjaan itu) dengan perasaan sungguh-sungguh dan ikhlas dalam menjalaninya. Bersyukurlah dengan apa yang sudah dimiliki dan lakukan pekerjaan apa saja. Jangan diam atau duduk bermalas-malasan.

Meskipun tampak yang dikerjakan saat ini tidak sesuai dengan keinginan-keinginan yang diharapkan, tetapi yakinlah keinginan itu akan terwujud.38901038_490293381437367_4739284188211970048_n

Kita bisa memulainya tanpa bekal apapun, serta tanpa tahu jalan mana yang harus dilalui. Tuhan yang akan membuatkan jalan untuk mencapai keinginan kita. Sebab Tuhan akan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Harap difahami, ketiga istilah tersebut tidak harus berurutan. Bisa saja dimulai dari cipta, karsa, rasa atau rasa, cipta, karsa atau karsa, cipta, rasa. Bebas-bebas saja.

 

Demikian sekelumit rahasia kekuatan cipta, rasa dan karsa. Ketiga istilah tersebut merupakan warisan para leluhur negeri ini dan pernah menghasilkan peradaban besar. Anda berminat mencobanya ?